Cerita Umar Patek ke Aqua Dwipayana, Minta Didoakan Umroh & Punya Anak

oleh
Aqua Dwipayana mengunjungi Umar Patek di Lapas Sidoarjo

“Pak Aqua tolong doakan saya termasuk di tempat-tempat mustajab di Tanah Suci jika Bapak umroh lagi agar saya segera punya anak,” ujar narapidana teroris Umar Patek, Jumat (29 Juni 2018) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Surabaya di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

Begitulah permintaan Umar Patek kepada Aqua Dwipayana saat mengunjunginya. Aqua adalah motivator komunikasi dan beliau gencar mengkampanyekan akan manfaat silaturahmi. Tiada hari yang ia lewati tanpa bersilaturahmi. Momen silaturahmi selalu ia bagikan informasinya ke banyak orang. Wajar, kalau penulis buku ‘The Power of Silaturahim : Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi’ kini disebut sebagai ‘ikon silaturahmi’. Beliau juga Doktor komunikasi lulusan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung.

“Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius yang sedang menghadiri KTT Badan Anti Teror di markas PBB di New York, Amerika, mengijinkan saya untuk silaturahim ke Umar yang asli Pemalang, Jateng. Selama kami diskusi didampingi Kepala KPLP Taufik Rahman. Amerika dulu pernah mengumumkan sayembara penangkapan Umar dgn hadiah senilai 1 juta dolar. Saya tertarik ketemu Umar setelah melihat videonya yang viral saat jadi pengibar bendera pada HUT RI ke-73 pada 17 Agustus 2017 lalu,” jelas Aqua dalam pesan yang diterima tim redaksi Majalah Rindu Kabah di Jakarta.
Aqua menegaskan, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) terbukti sukses melaksanakan program deradikalisasi. Umar yang dulunya dicap teroris, menjadi pengibar bendera pada HUT RI ke-73.

“Umar dihukum 20 tahun penjara sehari-hari di Lapas jualan Sate Ayam. Omsetnya lumayan. Alhamdulillah…,” katanya.

Umar Patek dulu dianggap sebagai teroris yang sangat berbahaya. Bahkan pemerintah Amerika Serikat pernah membuat sayembara untuk menangkap dia dengan hadiah 1 juta Dollar Amerika (Rp 14 miliar). Kini, dia mendekam sebagai napi terorisme di LP Porong, Sidoarjo.

Umar Patek dinyatakan sebagai teroris yang sangat berbahaya. Dia terlibat dalam kasus bom Bali I pada 2002 yang menggegerkan dunia. Banyak sekali korban tewas, mayoritas orang asing. Umar Patek yang memiliki nama alias Hisyam Bin Alizein alias Abu Syekh alias Mike juga terlibat dalam kasus bom malam Natal pada tahun 2000.

Dia ditangkap di Abbottabad, Pakistan pada 25 Januari 2011 setelah buron selama 10 tahun. Pada Agustus 2011, Polri berhasil membawa pria yang memiliki tatapan mata tajam ini ke Indonesia untuk diadili. Oleh majelis hakim, Umar Patek divonis 20 tahun penjara. Setelah beberapa tahun menjalani hukuman di penjara, Umar mulai insyaf dan menyesali perbuatan terkutuknya. Yang menarik, pada upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2017 lalu, Umar yang tetap membiarkan jenggot panjangnya menjadi pasukan pengibar bendera Merah Putih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *