Nikmatnya Ibadah Mengunjungi Masjidil Aqsha

oleh

” Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ( Qs Al Israa : 1)

Setiap memperingati peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassallam, kita merefleksikan sebuah peristiwa yang tidak dapat di terima oleh logika dan akal sehat kita sebagai manusia biasa tetapi oleh umat muslim di yakini dengan keimanan yang kuat.

Perjalanan yang berlangsung begitu cepat dan tidak terukur tersebut yang kemudian membuahkan perintah Allah Subhanahuwataala untuk menunaikan Shalat secara langsung kepada Nabi Muhammad Shallahu alaihi wassalam. Begitu pentingnya kewajiban shalat ini bagi umat Islam sehingga Allah SWT memerintahkannya langsung.

Tak kalah pentingnya adalah tentang sebuah tempat bernama Masjidil Aqsha yang secara khusus disebut oleh Allah SWT di dalam al Quran dan memberkahinya. Tempat yang menjadi kiblat pertama umat Islam selama kurang lebih 1 tahun 4 bulan sebelum akhirnya Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk memindahkan kiblat ke Masjidil Haram (Al Quran surah Al Baqarah; 144). Dalam salah satu hadist riwayat Al-Bukhari dan Muslim.

“Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Tidak boleh bersusah-payah bepergian, kecuali ke tiga masjid, (yaitu) Masjidil Haram, Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjidil Aqsha” [HR Al-Bukhari dan Muslim].

Begitu pentingnya tempat ini bagi umat Muslim, dan alangkah ruginya jika kita tidak sempat datang dan mengunjunginya. Sedangkan untuk mengunjungi tempat di negara lain bisa.

Israel memang kerap menuai polemik, tetapi di mata turis Indonesia, wisatanya amat dikenang dan tak terlupakan.

Ibu Sukesih dan Ibu Nurul ( Dosen Universitas Dr Soetomo Surabaya ) adalah salah satu turis Indonesia yang berkunjung ke Jerusalem untuk berziarah. Mereka sangat suka dengan wisata di sana. Baginya kunjungan ke Jerusalem salah satu perjalanan yang tidak terlupakan. Banyak sekali situs sejarah tentang Islam dan tentunya mereka datang untuk berkunjung ke Masjidil Aqsha dan beribadah disana.

“Jujur aku suka Jerusalem. Selain ada tempat-tempat yang disebut di Al quran, secara infrastruktur Jerusalem itu bagus.” Kata Ibu Indra salah satu pemilik hotel Syariah di Lombok.

Israel memang kerap menuai polemik, tetapi di mata turis Indonesia, wisatanya amat dikenang dan tak terlupakan.

Faisal salah satu pemilik Habibi Tour Travel mengatakan untuk kawasan wisata, Yerusalem punya banyak pilihan wisata religi bagi beberapa agama. Hanya saja karena kondisi konflik, cukup memusingkan aturannya.

Di Yerusalem, wisatawan harus berganti pemandu wisata dan sopir saat melintas dari otoritas Israel ke otoritas Palestina dan sebaliknya. Pemandu wisata disesuaikan wilayah otoritasnya.

“Mengaduk-aduk emosi sih trip ke Israel. Di lain sisi aku gak suka mereka seenaknya nempatin wilayah Palestina, tapi di lain sisi aku ngeliat kalau bukan mereka yang masuk ke situ, itu tempat gak bakal maju,” kata Ibu Widya salah satu jamaah dari Jakarta.

Ibu Ima dari Skypam Travel yang baru pertama kalinya berkunjung. “Ada tiga tempat wisata utama yang tidak ia lupa, dan sempat ia jelajahi. Masjid Al-Aqsa untuk umat Islam, Tembok Ratapan untuk Yahudi, dan Via Delorosa untuk umat Kristen.

Ketiganya memiliki makna yang mendalam bagi penganutnya. Terlepas dari agama apa pun saat berkunjung ke tiga tempat tersebut ada kenangan dan sensasi tersendiri.

Lain halnya dengan Adelina , salah satu turis Indonesia dan pemilik agen Adeline tour travel yang rutin tiap tahunnya berkunjung ke Israel dan Palestina. Ia mengaku salut atas perjuangan warga Palestina di tengah konflik, yang kini sangat bergantung pada pariwisata.
Ia rutin membawa turis Indonesia setiap 3 bulan sekali.

“Saya lebih suka ke Palestina, karena paling banyak destinasinya, juga karena kita punya sistem belanja apapun ke masyarakat Palestina yang memang lebih membutuhkan, mulai suvenir, makanan, sampai kebutuhan kaya sabun zaitun,” tuturnya.

Sedangkan Dokter Reny salah satu jamaah dari Lombok menyatakan
Ia merasa kasihan, karena masyarakat Palestina sulit bekerja dan kini sangat mengandalkan pariwisata untuk pemasukannya.

“Wisatawan Indonesia apa pun kepercayaannya memang suka mendukung Palestina dengan royal berbelanja ke masyarakatnya. Jadi saya rasa ini sangat sayang banget kalau ditutup,” pungkasnya.

Ibu Rini pun berpendapat bahwa perjalanan ini sangat menyenangkan:
Penuh tawa, makanan lezat, hotel berkelas, bus yang nyaman lengkap dengan camilannya.

Dalam wisata ke Masjidil Aqsha ini dipandu tour leader Ustad Rahmat Fadilah, sosok yang cerdas mengerti tentang Sejarah dan Hadist sehingga banyak berguru pada beliau. Suatu kehormatan yang luar biasa telah dikomandani oleh salah satu pendiri asosiasi MHTI dan beberapa pemilik Agen Travel Ownernya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *