Mewujudkan Jamaah Haji yang Mandiri dan Cerdas

oleh

Pada tahun 1440 H atau 2019 ini, PT Sari Ramada Arafah akan memberangkatkan 110 jamaah untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. PT Sari Ramada Arafah yang berkantor pusat di Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta ini, ingin mencetak jamaah haji yang mandiri dan cerdas. Oleh karena itu, dalam manasik kali ini, PT Sari Ramada mengusung tema “Melalui Manasik Haji Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW Kita Wujudkan Jamaah yang Cerdas dan Mandiri Guna Menggapai Haji yang Mabrur”.

“Kami ingin menjadikan jamaah haji yang cerdas dan mandiri. Mengetahui ketentuan-ketentuan, syarat, rukun dan hukum haji, sesuai tuntunan Rasulullah SAW, ” kata Managing Director PT Sari Ramada Arafah, HM. Wahyu, MM dalam sambutnnya dalam manasik haji di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Sabtu (22/9/2019).

Beliau melanjutkan, dengan manasik, jamaah haji menjadi jamaah yang mandiri. Yaitu jamaah mengetahui apa-apa yang harus dilakukan ketika berada di Tanah Suci.

Ia mencontohkan, jamaah harus cerdas dan pintar mengatur pola makan dan minum. Terlebih ketika jamaah berada Arafah, Mina, Muzdalifah. Hal ini supaya ibadah jamaah dapat maksimal.

Haji adalah ibadah fisik yang sudah ditentukan waktu dan tempatnya.

“Kami mohon dengan sangat kepada jamaah untuk mengikuti manasik ini dengan sungguh-sungguh,” tutur Wahyu.

Untuk persiapan jamaah haji, baik itu hotel dan transportasi dan lainnya, lanjut Wahyu, Insya Allah sudah siap semuanya. Saat di Tanah Suci, 110 jamaah akan terbagi dalam 3 bus.

“Tiket sudah oke semua, hotel di Madinah dan Mekkah sudah oke semua, bus juga sudah oke, Insya Allah semuanya sudah oke. Minggu depan kami mengurus e-hajj, mohon doanya juga dapat berjalan lancar, ” katanya.

Sedangkan Pimpinan PT Sari Ramada Arafah yang juga Amirul Hajj yaitu Drs. H. Denci Aminuddin dalam sambutannya, menekankan akan pentingnya niat. Segala sesuatu termasuk menunaikan ibadah haji karena Alllah SWT semata.

Denci mengajak semua jamaah untuk taubat sebelum berangkat ke Tanah Suci. Karena semua orang memiliki dosa, maka taubat adalah sebuah keharusan. Dalam rangka membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Kemudian ikhlas, jamaah harus belajar ikhlas. Hanya karena Allah SWT, ” tutur Denci.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *