BPKH Gandeng Himpuh Kelola Daging Dam

oleh

Jakarta – Kepala Badan Pelaksana Badan Pengelolaan Keuangan Haji (BPKH) Anggito Abimanyu mengajak Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh) untuk mengelola daging dam haji. Himpuh satu-satunya asosiasi pertama yang diajak untuk mengelola daging dam haji tahun 2019 ini.

Menurut Anggito, hampir semua jemaah haji khusus dari Indonesia melaksanakan haji tamattu dan diwajibkan harus membayar dam atau denda. Dengan menggandeng Himpuh, kata Anggito, BPKH berharap daging damm yang selama ini didistribusikan di Arab Saudi dan sekitarnya, bisa didatangkan ke Indonesia dan bisa didistribusikan ke fakir miskin atau mustahik (orang yang berhak menerima) di Tanah Air.

“Ini bisa jadi CSR Himpuh. Tahun ini Bank Muamalat ditunjuk sebagai pengumpul pembayaran dam haji. Daging akan dikembalikan ke Indonesia dan ini lebih membawa manfaat, silahkan Himpuh distribusikan ke mustahik di Indonesia, ” kata Anggito saat buka bersama dengan Himpuh di Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Anggito menjamin bila proses penyembelihan bisa dipertanggungjawabkan sesuai syariah. Mulai dari penyembelihan, packing, olahan hingga distribusi ke Indonesia.

“Tahun ini kita coba planning 5000 jamaah dari total 17.500 haji khusus. Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih banyak lagi. Bapak ibu bayangkan bila 100.000 kambing disembelih dan didistribusikan di Indonesia kepada para mustahik,” kata Anggito.

Dam ialah denda atau tebusan yang wajib dibayar oleh jamaah haji akibat pelanggaran ketentuan dan peraturan haji. Di antara contoh pelanggaran itu, misalnya, melanggar larangan ihram seperti memakai pakaian. Bentuk pelanggaran lain, seperti tidak menunaikan wajib haji, mabit di Mina, atau Muzdalifah.

Pemberlakuan dam, salah satunya merujuk pada ayat 196 surah al-Baqarah. “Dan, sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit) maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur) maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi, jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu) maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah 10 (hari) yang sempurna.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *