Kisah Inspiratif, Anak Berangkatkan Umrah Orangtua

oleh

Madinah – Apa yang dilakukan Sirajuddin ini patut diacungi jempol dan bisa dijadikan kisah inspiratif bagi kita semua. Sirajuddin memberangkatkan orangtuanya ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umrah. Sirajuddin memilih PT Al Marhamah Cahaya Utama, perusahaan satu grup dengan PT An-Naba Internasional sebagai biro travel perjalanan.

“Saya dan bapak diberangkatkan umrah oleh anak saya, Sirajuddin namanya. Kata anak saya, bapak dan ibu jalan-jalan jauh, saat itu anak saya tidak bilang kalau mau diberangkatkan umrah, semua biaya dari anak saya, ” kata ibu Sirajuddin yang bernama Sina Rabani Nyangki.

Ibu Sina bercerita kepada wartawan media Rindu Kabah di Pelataran Masjid Nabawi saat akan berziarah ke Makam Rasulullah SAW dan Makam Baqi. Saat bercerita, orang tua Sirajuddin Ibu Sina Rabani dan Bapak Sakari Langgo Mangki matanya terlihat berkaca-kaca. Rasa haru dan menangis bisa menunaikan ibadah umrah dengan biaya dari anaknya.

“Anak saya penghafal Alquran, dulu kuliah di UIN Makassar Sulawesi Selatan, sekarang kerja di percetakan Airlangga, ” cerita Ibu Sina dengan mata berkaca-kaca.

Menurut Ibu Sina, anaknya dulu tinggal di rumah Pak H Andi Aminuddin, LC (Pimpinan PT Almarhamah grup). Saat ini, Sirajuddin sudah berkeluarga. Istrinya orang Jawa Solo dan memiliki satu anak.

“Saya dan Bapak sangat haru, senang, semangat ibadah disini. Kami berdua sudah tua, kami di Tanah Suci banyak beribadah dan berdoa,” kata Ibu Sina.

Berbakti ke Orangtua Adalah Amal Utama

Bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama. Dengan dasar diantaranya yaitu hadits Nabi Shallallahu “alaihi wa sallam yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas”ud radhiyallahu “anhu.
Dari Abdullah bin Mas”ud katanya, “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu “alaihi wa sallam tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah ? Nabi Shallallahu “alaihi wa sallam menjawab, Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah”.[Hadits Riwayat Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9]

Dengan demikian jika ingin kebajikan harus didahulukan amal-amal yang paling utama di antaranya adalah birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua).

Bahwa ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu HIbban, Hakim dan Imam Tirmidzi dari sahabat Abdillah bin Amr dikatakan.

Dari Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu “anhuma dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu “alaihi wa sallam bersabda, “Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” .[Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid-), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)]

Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu dengan cara bertawasul dengan amal shahih tersebut. Dengan dasar hadits Nabi Shallallahu “alaihi wa sallam dari Ibnu Umar.

Rasulullah Shallallahu “alaihi wa sallam bersabda, “Pada suatu hari tiga orang berjalan, lalu kehujanan. Mereka berteduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka ada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua. Sebagian mereka berkata pada yang lain, “Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan”. Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawassul melalui amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu diantara mereka berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku mempunyai istri dan anak-anak yang masih kecil. Aku mengembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang telah larut malam dan aku dapati kedua orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anaku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena Engkau ya Allah, bukakanlah. “Maka batu yang menutupi pintu gua itupun bergeser” .[Hadits Riwayat Bukhari (Fathul Baari 4/449 No. 2272), Muslim (2473) (100) Bab Qishshah Ashabil Ghaar Ats Tsalatsah Wat-Tawasul bi Shalihil A”mal]

Semoga kita semuanya termasuk anak yang berbakti kepada orang tua. Aamiin Aamiin Aamiin…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *