Pimpinan Edipeni dan Al Aqsha Travel, Menjalani Bisnis Karena Allah SWT

oleh

Niat menjalankan usaha sebagai penyelenggara perjalanan ibadah haji dan umrah sebelumnya tak terbesit di benak Hj. Christ Maharani, sebab saat itu dirinya masih menyandang status sebagai seorang non muslim. Kisahnya berawal sejak dirinya bekerja di salah satu perusahaan tour and travel di Jakarta pada tahun 1992. Selama bekerja, ia sering mendengarkan kalimat talbiyah di saluran televise live Makkah yang ada di ruangannya.

“Saya sering merinding mendengarkan kalimat tersebut, kadang saya suka menangis. Saya g tahu kenapa saya menangis, kadang hati ini menepis kenapa saya menangis gitu,” ungkap Wanita Lulusan Universitas Borobudur, Jakarta.

Pada tahun 1996, akhirnya Christ dengan hidayah Allah SWT memantapkan diri memutuskan hijrah menjadi seorang mualaf/masuk Islam. “Keluarga saya mayoritas non muslim, pernah mendapatkan tantangan ketika masuk Islam. Jadi kalau mau sholat saya main dulu ke rumah tetangga. Alhamdulillah sekarang sih sudah diterima dengan baik,” kenangnya.

Pada tahun 1999, ia bersama suaminya mendirikan perusahaan tour and travel dengan nama Edipeni dan Al Aqsha tour and travel. Meski bermula dari sebuah garasi mobil yang ada di rumahnya yang disulap menjadi kantor, dengan penuh keyakinan usahanya akan berjalan dengan lancar. Sebab, menurut Christ, niat menjalankan bisnis ini adalah karena Allah dan untuk membantu para jamaah yang akan menjalankan ibadah haji maupun umrah.

Di tahun pertama pemberangkatan jamaah, nyatanya Edipeni dan Al Aqsha mampu memberangkatkan 3000 jamaah. Jumlah yang cukup besar bagi travel yang baru merintis usaha, ini merupakan pencapaian yang sangat bagus mengingat usahanya baru berjalan. “Umrah ini sebenernya lebih ke kepercayaan. Alhamdulillah Allah kasih kepercayaan sehingga jamaah ke kita, karena kalau g percaya mana mungkin orang kasih transfer dalam jumlah yang lumayan besar tanpa trust,” ucap Christ.

Menurutnya, di awal usaha tidak ada trik khusus dalam memasarkan usahanya tersebut. Ia hanya mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut dan jaringan yang ia miliki selama bekerja di salah satu travel. Tidak ada cara khusus dalam menjalankan usahanya. Ia hanya yakin amanah yang diberikan oleh jamaah kepadanya akan dijaga dengan baik karena akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. “Kepercayaan dan amanah apa yang kita janjikan ke jamaah ya apa yang mereka dapat,” jelasnya.

Perjalanan usaha berjalan lancar, hingga di tahun 2012 Edipeni dan Al Aqsha mendapatkan izin sebagai provider visa. Suatu pencapaian yang bagus, mengingat saat itu provider visa dibilang masih dalam jumlah sedikit.
Edipeni dan Al Aqsha menyediakan beberapa paket perjalanan ibadah ke Tanah Suci mulai dari bintang 3 hingga VVIP. Harga yang disediakan mulai dari Rp 20 juta ke atas sesuai dengan segmentasi pasar. Sedangkan untuk harga paket haji khusus, Edipeni dan Al Aqsha menawarkan harga mulai dari 11.000 US Dollar. Edipeni dan Al Aqsha juga mengedepankan 5 Pasti Umrah, yaitu pastikan travelnya berizin, pastikan jadwal penerbangannya, pastikan tiketnya, pastikan hotelnya dan pastikan visanya.

Lebih dari 20 tahun berdiri, Edipeni dan Al Aqsha terus berkembang dan melakukan ekspansi dengan membuka beberapa cabang dan kini telah ada 17 cabang di berbagai wilayah di Indonesia. Kesuksesannya bukan hanya untuk dirinya, bahkan beberapa karyawan yang pernah bekerja di tempatnya juga kini telah mendirikan perusahaan travel sendiri.

Saat ditanya mengenai kendala, Christ mengaku pernah mendapatkan kendala diantaranya karena salah mahrom atau jamaah kabur. “Apply visa umrah namun saat disana kabur, kita ya bayar denda ke Arab Saudi. Terakhir 3 tahun yang lalu. Lumayan banyak, kita juga sempat bikin symposium dengan Bareskrim, Kementerian Dalam Negeri dan Imigrasi untuk nanganin masalah itu,” ucap wanita kelahiran 1972.

Dengan kejadian seperti itu, ia pun kini lebih hati-hati. Meski ia sendiri bersama para karyawannya tidak tahu secara mendalam niat para jamaah yang mendaftar ke travelnya, apakah memang mau ibadah atau mau bekerja di Arab Saudi.

Perjalanan usaha yang dibangun Christ tidak selalu lancar sehingga ia pun terus belajar sampai kini. Pernah di tahun 2014 ia mendapatkan ‘surat cinta’ jamaah sebanyak 600 tidak bisa pulang, waktu itu ia menggunakan salah satu maskapai penerbangan. Namun karena entah alasan apa, sehingga maskapai tersebut menghentikan jadwal penerbangan. “Saya bilang ke jamaah, apakah mau dilanjutkan dengan pesawat apa saja atau mau dikembalikan dananya, sebagian ada yang minta dikembalikan ada juga yang minta tetep menunggu keputusan penyelenggara,” jelas Christ.

Akhirnya, selang beberapa hari karena adanya tekanan dari kedutaan besar seperti Kedubes Kuala Lumpur, Kedubes India dan Kedubes Indonesia maskapai penerbangan tersebut menjemput para jamaah secara bertahap. “Ada yang 5 hari, ada yang 6 hari. Selama di Saudi kita tanggung biaya hotelnya, makannya,” ucapnya.

Sesampainya jamaah di Indonesia, para jamaah tidak ada yang marah-marah malah justru kebanyakan dari mereka menanyakan adakah paket yang seperti itu bayar paket 9 hari dapatnya 15 hari.

Berkat kegigihan dan ketekunannya, Edipeni dan Al Aqsha travel pun banyak mendapatkan penghargaan dari berbagai pihak, seperti maskapai penerbangan dan lainnya. Kedepan, ia berharap dan berdoa supaya Allah memberikan kekuatan dan ridho dalam menjalankan usaha penyelenggara ibadah umrah dan haji tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *