Pimpinan Sari Ramada, Sukses Besarkan Travel Dengan Konsep Islami

oleh

Sejak sekolah, Muhammad Acung Wahyudi akrab dengan lingkungan pesantren. Pria asal Ponorogo, Jawa Timur ini dibesarkan di keluarga pedagang. Ia pun diarahkan untuk masuk ke pesantren Wali Songo di Ponorogo, Jawa Timur. Kemudian ia melanjutkan S1 di Al Azhar Kairo, Mesir.

Saat menunaikan ibadah haji di tahun 1997, ia berdoa kepada Allah SWT di depan Ka’bah supaya diberikan karir yang cocok. “Subhanallah setelah pulang ke Indonesia saya ditawari untuk memegang travel, yang mana saya belum punya pengalaman sama sekali dalam mengelola travel,” kenangnya.

Di tahun 2000, M. Acung Wahyudi bekerja di Intan Salsabila Travel (Intan Tour) dan saat itu ia dipercaya mendampingi jamaah saat menjalankan ibadah haji di tanah suci. Kebetulan ia dipilih karena dianggap fasih berbahasa Arab. Itu merupakan pengalaman pertama kali baginya membawa jamaah haji meski ia merasakan tantangan yang luar biasa.

“Saya jalani dengan enjoy saja karena saya punya prinsip bahwa sesungguhnya semua manusia sama, yang membedakan manusia di hadapan Allah hanya ketakwaannya,” tandasnya.

Berlatar belakang prinsip itulah, M. Acung Wahyudi tidak pernah merasa rendah diri saat berhadapan dengan bos . Ia tetap hormat, baik, sopan dan tidak minder serta bekerja dengan tulus dan ikhlas. Setelah berkarir di Intan Tour, ia kemudian diminta untuk mengelola Masindo Buana Wisata di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Namun ketika berkarir di Masindo, ia merasa kurang mendukung dalam karirnya, hingga ia menerima tawaran untuk bekerja di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

“ Alhamdulillah ini mungkin rejeki, sampai sekarang saya belum pernah melamar pekerjaan tetapi selalu diminta,” jelasnya.

Saat bekerja di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia M. Acung Wahyudi sembari kuliah S2 manajemen di Universitas Muhammadiyah. Ia cukup lama berkarir di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia selama 6 tahun. Ia juga ikut mengelola Hudaya Safari, usaha travel Dewan dakwah islamiyah Indonesia yang memberangkatkan jamaah haji di tahun 2008 hingga 495 orang atau keberangkatan 11 bus.

Menurut M. Acung Wahyudi, usaha travel yang menyisihkan keuntungan untuk dakwah dan kegiatan sosial bisa maju cepat. Ilmu itu ia dapatkan saat berkarir di Hudaya Safari. “Intinya ini semua sebenarnya bukan karena saya, tetapi karena tim guru dan ustad yang mendukung di Hudaya Safari. Betul-betul seluruh keuntungan Hudaya Safari itu untuk dakwah, barangkali itu suatu hal yang bisa kita coba untuk diambil nilai positifnya,” paparnya.

Di tahun 2008, M. Acung Wahyudi diminta untuk bergabung di PT Sari Ramada Arafah. Saat itu ia diberi saham 20 persen. Suka duka dialaminya, bahkan di tahun 2014 PT Sari Ramada Arafah pernah merugi sampai Rp 8 miliar.

“Barangkali angka itu tak seberapa bagi orang lain. Tetapi bagi kami angka kerugian Rp 8 miliar itu sudah menghabiskan total aset, kerugian lebih besar dari total aset. Ini sebuah ujian juga bagi kami, makanya kami terus membenahi manajemen termasuk hal-hal yang kecil tapi menurut saya penting,” jelasnya.

Ia pun belajar ilmu bisnis China dan Korea, salah satunya mengenai manajemen keuangan. Ia juga menerapkan ilmunya yang diperoleh di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, bahwa kalau mau sukses harus mau berhitung juga.

“Makanya manajemen keuangan kita awasi dan kita perbaiki. Rugi Rp8 miliar itu karena ada oknum di Sari Ramada yang melakukan penggelapan uang, ada kesalahan manajemen,” tambahnya.

M. Acung selalu menanamkan kepada dirinya dan rekan-rekannya untuk kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas. Sehingga dalam menjalani proses perjalanan harus disiplin dan bisa segalanya.

“Bekerja itu ibadah. Allah tak membebani hambanya sesuai dengan kemampuannya,” ucapnya.

Meski pernah mengalami kerugian di tahun 2014, dua tahun kemudian yaitu pada 2016 keuangan PT Sari Ramada Arafah surplus dan bisa membagi deviden sampai Rp2 miliar hingga sekarang.

“Ini barokah dari Allah, zakat dan infak sodakoh betul-betul kami perhatikan supaya Allah memberikan keberkahan. Travel kami buat motto untuk melayani kesempurnaan ibadah dan kenyamanan. Kita juga menganggap kepercayaan tamu itu adalah sebuah amanah yang harus dijalankan dengan sepenuh hati. Jadi kalau kita menjalankan amanah sepenuh hati, Insya Allah akan berjalan baik,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *