Cecilia, Owner Agindo Travel yang Selalu Pertahankan Kepuasan Klien

oleh

Jerman – Pengalaman menyusun itinerary atau jadwal perjalanan yang terencana menginspirasi Cecilia untuk mendirikan usaha travel. Ia lama berkarir sebagai sekretaris head operation. Saat itu Cecilia kerap diminta pimpinannya untuk membuat itinerary perjalanan wisata saat pimpinannya akan traveling.

“Bos saya itu saat liburan suka traveling. Saya yang buat itenary,” kenangnya.

Untuk menyusun itinerary perjalanan wisata, Cecilia pun membandingkan antara maskapai penerbangan satu dengan yang lain dan menyusun rencana perjalanan wisata, termasuk mencari hotel yang kualitasnya bagus. “Jadi saya start menyusun itinerary bos saya, mengatur liburan bos saya. Dari situ saya banyak belajar,” tambahnya.

Selama beberapa tahun bekerja, Cecilia mengaku mendapat gaji cukup besar. Namun setelah beberapa tahun bekerja, ia ingin merasakan tantangan berbekal pengalaman menyusun jadwal perjalanan wisata. Ia pun tertarik membuat usaha travel sendiri, dan memutuskan untuk resign dari zona nyaman pekerjaannya di tahun 2012. “Bos saya baik banget, saat resign saya juga pamit ke istrinya, jadi sudah seperti keluarga,” kenangnya.

Saat resign, Cecilia mendapat uang pensiun yang cukup untuk digunakan sebagai modal membuat PT dan operasional usaha. Meski tidak memiliki dasar ilmu mengenai travel, tetapi Cecilia memiliki passion dalam hal menyusun itinerary. Berbekal pengalaman mengatur perjalanan, meng-organize meeting dubes-dubes, ia pun membuat usaha travel yang diberi nama Agindo Travel.

Perjalanan Cecilia membangun usaha travel menghadapi tantangan luar biasa besar, karena dari awal ia tidak memiliki klien. Di awal, ia menawarkan rute perjalanan wisata ke Holy Land , namun begitu mulai banyak klien meminta rute lain. Ia pun mulai mengembangkan rute lain seperti ke Israel atau Palestina. “Saya juga kembangkan rute perjalanan wisata ke Eropa, tapi sejauh ini justru grup konsumen yang melakukan perjalanan ke Eropa baru 3 kali,” ujarnya.

Tahun-tahun awal usahanya diakui Cecilia terasa berat. Bahkan ia pernah mengalami kerugian, namun ia menyadari hal itu adalah resiko bisnis. Ia pun menerapkan strategi yang akhirnya membuat bisnis travelnya sukses saat ini, yaitu pertahankan kepuasan tamu dan melayani secara maksimal, serta jangan money oriented.

“Pokoknya tamu harus happy. Ada kejadian yang tak kita duga. Saya pernah mengalami waktu di Mesir, saat itu ada demonstrasi di Kairo dan kita tak bisa masuk ke hotel. Kita lalu cari hotel di pinggir dan makan seadanya. Situasinya darurat banget, ada suara tembakan. Situasi terasa mencekam sekali. Saat itulah, ketika terjadi demonstrasi di Kairo , yang menjadi prioritas adalah tamu harus happy. Kalau tamu puas dan happy, dia akan menceritakan kepada orang lain,” jelas Cecilia.

Sekedar informasi, Agindo Travel merupakan salah satu peserta Edutrip Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF) ke Eropa Barat pada tanggal 11 Februari hingga 20 Februari 2019. Acara ini diikuti oleh segenap owner travel, tour leader dan praktisi pegiat wisata muslim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *