Menyambut Tren Wisata Kekinian, Peluang Besar Bagi Penyelenggara Wisata di Daerah

oleh

Wisata saat ini tidak hanya sebatas pada kegiatan berpergian dari satu titik ke titik lain, dari satu objek wisata ke objek wisata lainnya. Lebih dari pada itu saat ini wisata didefinisikan sebagai kegiatan yang melibatkan juga emosi dan pengalaman yang akan dirasakan dan diperoleh. Peran teknologi sangat mempengaruhi pertumbuhan tren wisata baru yang bersifat kekinian. Munculnya tren wisata baru tersebut juga tidak terlepas dari Subjek yang terlibat didalam kegiatan tersebut, khususnya generasi-generasi milenial dan generasi Z yang saat ini sangat memegang kendali kebutuhan pasar wisatawan baik kebutuhan pasar wisatawan dalam negeri maupun secara global.

Generasi Milenial atau generasi Y didefinisikan oleh berbagai ahli sebagai generasi yang lahir pada rentan waktu 1980 sampai 1995. Seorang psikolog ternama Jean Twenge mendefinisikan generasi milenial sebagai “Generation Me” dimana generasi ini memiliki ciri-ciri yang menonjol seperti lebih percaya diri, asertif, mandiri, open-minded dan ambisius.Generasi Z adalah generasi yang lahir pada rentan waktu 1995 hingga 2010. Tim Elmore seorang ahli dan pembicara ternama mendefinisikan bahwa generasi Z adalah generasi yang generasi yang mandiri, ingin tahu banyak hal hingga detailnya, lebih mementingkan pemahaman dibandingkan nilai akademis, sangat terikat erat dengan media social dan internet serta memiliki daya kreativitas yang sangat tinggi. Prastowo seorang pengamat dunia pariwisata menyatakan bahwa dunia pariwisata Indonesia akan siap menghadapi era persaingan bebas jika bisa mempersiapkan 3 hal salah satu halnya adalah kesiapan dari segi penguasaan teknologi informasi.

Tren wisata yang saat ini sedang banyak diminati antara lain adalah wisata petualangan atau adventure tourism,wisata kesehatan, wisata unik dan ekstrim, wisata solo dan yang baru-baru ini sedang digandrungi kaum milenial adalah wisata virtual atau wisata imajinasi. Wisata Virtual adalah tren wisata baru yang melibatkan banyak sekali peralatan berteknologi tinggi seperti perlengkapan Virtual reality (VR) , peralatan dan perlengkapan penampil Augmented Reality (AR) serta koneksi internet yang cepat dan mumpuni. Wisata virtual memeliki banyak sekali kelebihan diantaranya adalah penguasaan teknologi terkini khususnya yang berkaitan dengan penggunaan gadget penunjang teknologi virtual reality, kelebihan lainnya tidak memerlukan biaya besar untuk sekedar mengetahui apa yang ada di objek wisata tersebu dan terakhir wisata virtual menawarkan pengalaman serta sensasi seperti berwisata namun semua itu dilakukan dari tempat ia duduk. Tren wisata ini juga memiliki kekurangan yang harus diwaspadai diantaranya adalah pertama secara langsung akan berdampak pada fisik pelakunya karena wisata seharusnya adalah berjalan keluar dan merasakan sentuhan nya namun karena dilakukan secara virtual maka semua itu ditiadakan.

Penggunaan teknologi Virtual Reality untuk keperluan wisata sudah ada di Indonesia sejak tahun 2015 namun masih sedikit jumlahnya karena saat itu teknologi pendukungnya belum banyak beredar di Indonesia. Saat ini dengan tersebar luasnya teknologi pendukung wisata virtual seperti kacamata VR yang dikeluarkan oleh beberapa vendor besar seperti Xiaomi dan Google turun membantu berkembanya wisata virtual di Indonesia. Pemerintah melihat peluang ini dan menggandeng sebuah vendor penyedia jasa Virtual reality Ananta Studios untuk menyediakan Video Virtual Reality dari 10 destinasi unggulan Indonesia yang nantinya akan digunakan untuk mempromosikan 10 daerah wisata unggulan tersebut. Video Virtual reality yang tersedia tersebut pertama kali digunakan pada saat ajang bursa travel Revolution 2018 yang diselenggarakan di Singapura. Dalam video tersebut ditampilkan berbagai spot-spot menarik dari setiap objek wisata yang tujuannya adalah untuk menggugah calon-calon wisatawan untuk berkunjung ke objek wisata tersebut. Di Bali sudah tersedia beberapa video virtual reality dari berbagai daerah objek wisata di Bali diantaranya adalah Kuta beach 360°, Seminyak Beach 360°, Legian Beach 360°, Tanjung benoa beach 360° dan sebagainya. Di Lombok kita sudah tersedia wisata virtual dari pulau gili trawangan baik pada saat sunset maupun pada saat siang hari, selain itu juga sudah tersedia beberapa tayangan virtual reality dari berbagai spot menarik disekitaran Lombok seperti The Beach Club, Ocean 5 Resort, Manta Dive gili air dsb. DI Raja Ampat juga tidak mau kalah, sudah tersedia juga tayangan Virtual reality 5K aerial Raja Ampat 360° view, raja ampat 360° VR experience dan sebagainya. Dengan semakin banyaknya destinasi-destinasi unggulan milik Indonesia yang sudah memiliki tayangan VR diharapkan akan meningkatkan jumlah wisatawan baru yang akan datang ke daerah-daerah tersebut untuk merasakan pengalaman sesungguhnya dari destinasi tersebut. Hal ini tentunya sejalan dengan apa yang diutarakan oleh Menpar Arief Yahya bahwa pariwisata 4.0 adalah wisata yang berbasis teknologi informasi. Pariwisata ini akan terus membawa perubahan yang signifikan dalam penyelenggaraan kepariwisataan di Indonesia. Sejalan dengan itu pula pemerintah Indonesia akan serius meningkatkan kualitas dari fasilitas pendukung sektor pariwisata berbasis digital ini.

Seorang Pakar sekaligus praktisi dunia Pariwisata Sapta Nirwandar mengatakan bahwa di era disrupsi saat ini, era dimana semua serba online dan digital self-service peran dari wisata offline tidak bisa digantikan oleh wisata virtual khususnya wisata virtual reality karena esensi dari berwisata itu sendiri adalah pengalaman atau experience dimana kita harus menyentuk dan merasakan sendiri suasana yang ada di objek wisata tersebut experiencing is believing.

Dengan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa traveling atau berwisata itu sendiri adalah kegiatan yang melibatkan emosi dan pengalaman sehingga tidak akan bisa tergantikan dengan teknologi khususnya teknologi virtual reality. Teknologi akan hanya jadi sebatas alat untuk meningkatkan motivasi kaum muda saat ini untuk berwisata khususnya ke tempat-tempat yang selama ini jarang dikunjungi. Dengan semakin berkembangnya teknologi penunjang video virtual reality serta semakin kreatif nya para pelaku perjalanan wisata menyiapkan tayangan video virtual reality dari berbagai objek wisata unggulan tersebut bisa membuka banyak peluang datangnya wisatawan baru khususnya dari kalangan milenial dan generasi Z. Dari peluang yang semakin terbuka lebar tersebut pemerintah sudah seharusnya bekerja keras dengan menggandeng beberapa pihak untuk mempersiapkan peralatan pendukung wisata virtual melalui teknologi Virtual reality. Pemerintah juga harus menyiapkan petugas-petugas yang berkompeten dan menguasai teknologi tersebut khususnya di daerah-daerah unggulan seperti Bali, Jakarta, Lombok dan Raja Ampat – Wakatobi. Pemerintah juga harus serius menyiapkan sarana dan prasarana pendukung di berbagai objek wisata unggulan tersebut seperti tiket box otomatis, mesin self-check in di berbagai penginapan yang ditunjuk dan sebagainya. Tidak hanya itu pemeintah juga harus mewaspadai dampak negative yang mungkin timbul akibat berkembangnya tren wisata digital tersebut.

Oleh : Jaka Marsita, Mahasiswa Pascasarjana Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *