Manasik Umrah Multazam : Umrah adalah Haji Kecil

oleh

Jakarta — Haji Kecil, itulah sebutan lain untuk ibadah umroh yang banyak disematkan oleh mayoritas ulama, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Amru bin Hazm, yang artinya, “Dan sesungguhnya umroh adalah haji kecil..” (dishahihkan oleh Imam Ahmad dan Al-Uqaili). Sahabat sekaligus sepupu Nabi shallallahu alaihi wa salam, Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma pun berkata, “Umroh adalah haji kecil.” (dikeluarkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah).

Itulah kata pengantar yang disampaikan pembimbing Multazam Utama Tour dalam acara manasik umrah di Hotel Sunlake, Kemayoran, Jakarta, Sabtu (16/2/2019).

Dalam acara manasik ini, sekitar 100 calon jamaah umroh antusias menyimak pemaparan ustadz yang menjelaskan materi-materi penting dalam pelaksanaan ibadah umrah. Mulai pemberangkatan, doa-doa, perjalanan, tata cara memakai ihram dan sebagainya.

Umroh disebut sebagai haji kecil karena di dalamnya terdapat beberapa ritual serupa dengan ritual yang juga dilaksanakan pada saat pelaksanaan ibadah haji seperti ihram, thawaf, sa’i, dan mencukur sebagian rambut di kepala atau menggundulnya. Sedangkan yang membedakan dengan haji adalah wukuf dan lempar jumroh.

Disaat waktu tunggu untuk dapat melaksanakan ibadah haji begitu lama, juga biaya yang dibutuhkan dirasa begitu tinggi maka umroh seakan menjadi opsi yang diambil oleh sebagian kaum muslimin yang merasa sangsi dapat melaksanakan ibadah haji. Namun demikian perlu kita ketahui dan yakini bersama bahwa ibadah umroh pun memiliki keutamaan yang amat besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dimana di antara keutamaan tersebut adalah apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah hadits beliau, yang artinya, “Satu umroh ke umroh yang berikutnya merupakan kaffarah (penebus dosa) untuk dosa yang terjadi di antara keduanya..” (dikeluarkan oleh Imam Muslim nomor 1349).

Dan sebagai manusia tentunya kita tidak pernah terlepas dari dosa, maka umroh merupakan satu media emas yang dapat dimanfaatkan oleh seorang muslim untuk menebus segala dosa yang telah ia lakukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala juga untuk semakin mendekatkan dirinya kepada Dzat yang menciptakan dirinya, tunduk bersimpuh kepada Allah dihadapan Ka’bah yang selama ini menjadi kiblat untuk seluruh shalatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *