Kemenag Akan Bangun 16 Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu

oleh

Jakarta — Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) tahun 2019 akan membangun Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu (PLHUT). Total ada 16 PLHUT yang akan dibangun di 16 Kabupaten/Kota.

Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Muhajirin Yanis mengatakan bahwa pembangunan PLHUT bersumber dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Tahun ini, total teralokasikan dari sebesar Rp36miliar untuk pembangunan 16 PLHUT.

Ke-16 kabupaten/kota penerima dana SBSN pembangunan PLHUT tahun 2019 adalah Kota Padang, Bandar Lampung, Kab Pandeglang, Kab Cirebon, Kab Bekasi, Kab Brebes, Kota Semarang, Kab Banyumas, Kab Tegal, Kab Jember, Kab Sidoarjo, Kab malang, Kota Pontianak, Kab Lombok Tengah, Kab Wajo, dan Kab Tuban.

Sebagai persiapan, Direktorat Jenderal PHU mengundang para Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek untuk rapat koordinasi. “Pembangunan PLHUT merupakan program inovasi layanan haji. Kemenag Kabupaten/Kota ujung tombak pelayanan jemaah haji dan umrah maka harus mendapat perhatian lebih besar untuk meningkatkan layanan kepada Jemaah,” jelas Yanis di hadapan peserta rapat di Jakarta, Kamis (31/01).

Menurut Yanis, pembangunan 16 PLHUT di Kemenag Kabupaten/Kota tahun ini merupakan pilot project atau proyek pertama Kemenag. Sebelumnya, alokasi dana SBSN digunakan untuk merevitalisasi asrama haji.

“Sebagai pilot project, pembangunan PLHUT tahun ini harus selesai dalam satu tahun anggaran dengan kualitas yang baik. Jangan sampai tidak selesai atau kualitasnya tidak baik,” tegas Yanis.

Dia mengingatkan agar percepatan pembangunan dan kontrol kualitas PLHUT benar-benar dilakukan. Keberhasilan proyek PLHUT tahun ini akan berdampak pada keberlangsungan proyek berikutnya untuk daerah lain.

“Prototipe sudah kami siapkan. RAB juga telah dihitung seluruhnya, tinggal tiap daerah menyesuaikan perhitungannya dalam kontrak. Semua kami lakukan supaya tidak ada keterlambatan,” imbuhnya.

Bentuk bangunan PLHUT harus mengikuti prototype yang telah ada. Hal itu menurut Yanis supaya bangunan PLHUT di semua daerah memiliki bentuk dan ciri yang sama.

“Ciri khas bangunan (image) ini penting supaya masyarakat lebih mudah mengenali gedung PLHUT,” pungkasnya.

PLHUT ini dirancang terdiri dari dua lantai seluas 400 meter persegi. Lantai satu digunakan untuk ruang pelayanan jemaah dan lantai dua untuk ruang serbaguna yang dapat digunakan sebagai ruang bimbingan manasik. Ke depan, PLHUT juga berpotensi menyumbang pendapatan negara melalui PNBP.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *