Tantangan dan Peluang Penyelenggara Perjalanan Wisata di Tahun 2019

oleh

Jakarta — Founder Indonesian Tour Leader Association (ITLA) Rudiana menjelaskan tantangan dan peluang bisnis jasa pariwisata di tahun 2019. Hal ini ia sampaikan dalam acara ‘Europe Sharing Destination’ yang diselenggarakan oleh Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF) beberapa waktu lalu.

Menurutnya, bisnis pariwisata saat ini semakin menggiurkan. Meski begitu, banyak juga tantangan yang harus dihadapi. Tantangan yang utama menurut Rudiana adalah keadaan ekonomi yang stagnan. Kedua adalah banyaknya travel fair yang membuat orang holding ticket. “Sekarang (tahun ini) travel fair kurang lebih 21 travel fair yang besar, seperti Garuda Travel Fair, ESQ Travel Fair, Astindo Travel Fair dan lain-lain. Itu banyak orang beli tiket sendiri,” papar Tour Leader berpengalaman lebih dari 20 tahun.

Ketiga yaitu tumbuh kembang OTA bersamaan dengan kaum Milenial. “67 persen generasi yang 20 up to 40 itu yang mendominasi berarti kaum milenial. Mereka yang berusia 40 tahun ke bawah itu merasa lebih pinter dari kita,” jelasnya.

Keempat yaitu menjamurnya penawaran open trip yang tidak membutuhkan tour leader. “Karena sudah pinter, tadinya sendiri ikut kita karena merasa lebih pinter berangkat sendiri atau membawa group. Ini yang dikhawatirkan nantinya jadi tour leader abal-abal yang merugikan konsumen,”jelasnya.

Kelima yaitu persaingan antar tour leader akan semakin ketat dan terakhir adalah Standard kompetensi.

Meski banyak tantangan, Rudiana juga menjelaskan peluang bisnis pariwisata di tahun 2019 yaitu, Incentive dan private tour akan meningkat. Kedua yaitu Segmentai upper market tetap eksis dan berkembang. Ketiga yakni tumbuh kembang halal tourism.

“Jangan main-main ini di Indonesia ada 260 juta orang. Bayangin Jepang dan Taiwan yang seperti itu udah bikin halal tour. Ini peluang yang harus dilakukan,” ucap pria lulusan Wita Travel.

Terakhir yakni Cross border tour leader. “Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sudah di netifikasi di ASEAN. SKKNI adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan,”pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *