Perjuangkan Hari Tenun, Anna Mariana Lakukan Audiensi Dengan Ketua DPR RI

oleh

Anna Mariana seorang perancang dan pelopor pengembangan Tenun dan Songket yang sudah lebih dari 10 tahun terakhir, kini berjuang “mendekati” pemerintah dan meyakinkan betapa pentingnya penetapan peringatan hari Tenun dan Songket Nasional. Ia ingin peringatan hari Tenun berbeda dengan hari Batik.

“Alasannnya sederhana, agar ketika peringatan Hari Batik, seluruh Indonesia mengenakan batik, dan di tanggal lain akan mengenakan tenun. Biar ini bisa menjadi ajang promosi berjalan!” kata isteri dari Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha, SH, MS, MSc kepada Rindukabah, Jumat (7/12/2018).

Menurutnya penggabungan Hari Batik dan Tenun Nasional akan membuka mata dunia tentang betapa kayanya budaya wastra khas Indonesia.

“Setelah sukses memasyarakatkan batik, kita harus memberikan perhatian yang sama terhadap keberadaan tenun. dengan adanya penetapan hari peringatan tenun bisa merangsang aktivitas bisnis di bidang tenun lebih menggeliat lagi. Dengan demikian dapat berkontribusi bagi pembangunan ekonomi dan kesejaheraan masyarakat” ujar Pendiri, Dewan Pakar & Pembina di Komunitas Tekstil Tradisional Indonesia (KTTI) itu.

Seperti halnya Batik, tenun akan mendunia jika dimulai dari dalam negeri, ia pun akan mencoba berkomunikasi kembali dengan Presiden Joko Widodo untuk mendukung pencanangan Hari Batik dan Tenun Nasional.

“Minggu depan saya akan bertemu Pak Jokowi khusus membicarakan tentang ini!” ungkap DR. Hj. Anna Mariana, SH, MH, MBA.

Jika presiden setuju hari peringatan itu disatukan, Anna sendiri mengaku akan mengikuti kebijakan itu.

“Yang penting pada prinsipnya, Alhamdulillah Pemerintah dan Presiden sudah mengakomodir, mendengarkan serta sekaligus mengabulkan permohonan dari perjuangan saya. Semoga ini akan membawa dampak lebih baik bagi para pengrajin tenun dan songket! Demi terselamatkan wastra tradisional tenun dan songket yang merupakan warisan dan aset budaya leluhur bangsa Indonesia!” jelasnya.

Dalam pengamatan Anna Mariana, Indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia yang masih secara aktif memelihara budaya pembuatan kain tenun dan songket.

“Dan kerajinan ini merata hampir seluruh wilayah Indonesia, dengan ciri khas yang berbeda-beda, unik dan langka dan dikerjakan secara turun temurun,” ungkap pemilik butik House of Marysa tersebut.

Anna merasa sangat bersyukur, jika impian lamanya yang berkembang menjadi obsesi itu bisa terwujud. Anna Mariana merasa khawatir jika pemerintah mengabaikan hal ini, suatu saat Negara lain yang akan mengklaim kain tenun dan songket sebagai budaya mereka.

Ide ini sesungguhnya juga merupakan aspirasi dari para pengrajin tenun dan songket binaan Anna yang berjumlah hampir 10 juta yang tersebar di seluruh Indonesia. Anna juga sangat berharap, penggunaan dan pemakaian tenun bisa lebih lekat lagi dalam keseharian masyarakat Indonesia.

“Baik sebagai seragam pegawai pemerintah maupun swasta juga seragam sekolah. Sebagai bagian dari ekonomi kreatif, tenun bisa turut berkontribusi meningkatkan penghasilan pengrajin sekaligus juga menjadi sumber daya yang dapat memajukan perekonomian nasional,” pungkas Anna Mariana.

Obsesi serta cita-cita Anna Mariana untuk menginisiasi lahirnya peringatan Hari Tenun Nasional mendekati kenyataan. Hal tersebut terlihat saat tokoh dan pelopor tenun nusantara itu bersama Tengku Ryo Rizqan (Ketua Umum KTTI) dan Ibu Musdalifah (Dewan Pembina KTTI) melakukan audiensi dengan Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) di Gedung DPR, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *