Selisih Hingga 530 Milyar, Menag Usul Pembayaran Haji 2019 Gunakan Kurs Dolar AS

oleh
Suasana Wukuf di Arafah

Jakarta — Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengusulkan pembayaran haji tahun 2019 ditetapkan dengan kurs dolar. Hal itu karena pemerintah harus merogoh kocek besar untuk membayar selisih kurs dolar pada pelaksanaan haji 2018 yang nilainya mencapai 530 Milyar.

“Untuk jadi catatan kita, di tahun 2018 kita terpaksa menggunakan sampai Rp 530 milyar relokasi anggaran hanya untuk membayar kurs dolar, yang ketika itu kita tetapkan hanya Rp 13.388, tapi ternyata pada pelaksanaannya dolar sampai menyentuh Rp 15 ribu. Jadi terpaksa dikeluarkan cukup besar,” kata Lukman dalam raker bersama Komisi VIII, di kompleks DPR, Jakarta, Senin (26/11/2018) seperti Dilansir Detikcom.

Lukman mengatakan penggunaan rupiah tidak sampai 5 persen, apalagi kurs rupiah selalu berfluktuasi atau mengalami perubahan.

“Untuk biaya haji 2019 kami Kemenag memang mengusulkan agar penetapan biaya haji itu ditetapkan dengan US dolar. Kenapa? Karena lebih dari 95 persen pembayaran penyelenggaraan haji dilakukan dengan mata uang asing dengan dolar dan riyal Arab Saudi (SAR),” kata Lukman.

Dengan mengusulkan penetapan pembayaran biaya perjalanan ibadah haji menggunakan dolar, menurut Lukman, tidak ada kewajiban membayar kurs dolar lagi pada 2019. Pemerintah tidak ingin mengulang membayar selisih kurs tersebut.

“Karena itu, akan lebih aman bagi semua kita untuk penetapan biaya haji dengan USD sehingga pelunasan yang dilakukan oleh jemaah terkait dengan selisih yang harus dibayarkan dari setoran awal yang sudah mereka bayarkan itu tinggal dikaitkan dengan berapa nilai kurs rupiah pada saat pembayaran dilakukan, sehingga tidak ada yang dirugikan dengan ketentuan seperti ini,” ujar Lukman.

Ia mengatakan, meskipun pemerintah membuat acuan pembayaran biaya haji menggunakan dolar, masyarakat tetap membayar dengan rupiah. Nantinya, saat pelunasan biaya haji, tergantung berapa kurs rupiah saat itu.

“Jadi kami ingin penetapan itu dengan USD, sehingga nanti tergantung pada saat pelunasan itulah kurs itu ditetapkan. Jadi setiap calon jemaah haji pada sisi USD sama, tapi berapa rupiah yang harus dia bayarkan tergantung dari kapan dia melakukan pelunasan sesuai dengan kurs yang ditetapkan pada hari saat dia membayarkan itu. Mungkin selisihnya tentu tergantung dari kurs perubahan saat itu, tapi dari sisi USD sama jumlahnya,” ujarnya.

Dia menambahkan, Kemenag mengusulkan untuk biaya per jemaah tahun 2019 sebesar USD 2.675. Perinciannya, biaya penerbangan diusulkan USD 2.096,60, naik dari tahun lalu. Hal ini karena karena sewa pesawat yang terus mengalami kenaikan.

Biaya akomodasi di Arab Saudi sebesar USD 178,13. Sementara living allowance atau uang saku 1.500 riyal. Sedangkan dana optimalisasi yang akan digunakan sebagai pembiayaan indirect cost diusulkan Rp 6,85 triliun.

“Kami usulkan untuk per jemaah tahun 2019 biaya hajinya adalah USD 2.675,” kata Lukman.

Ia mengatakan dana haji 2019 diusulkan mengalami kenaikan USD 43 menjadi USD 2.675, tetapi usulan tersebut mungkin masih bisa naik hingga USD 143-148. Namun pemerintah masih akan menyeimbangkannya dengan alokasi biaya tak langsung. Nantinya pemerintah akan membahas lebih lanjut dengan DPR di dalam panitia kerja terkait ini.

“Tapi sekali lagi, ini baru usulan dari kami pemerintah dalam pembicaraan pendahuluan yang tentu nanti akan dibahas mulai besok di panja yang tentu sangat dinamis sampai kemudian kita menyepakati berapa biaya haji yang paling rasional untuk 2019,” ungkapnya.

Kenaikan biaya haji ini juga diiringi perbaikan fasilitas. Salah satunya penggunaan AC di tenda-tenda di Arafah pada 2019, diperkirakan akan menambah biaya 50 Riyal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *