‘Saya Perempuan Anti Korupsi’ Perlu Kampanye Masif

oleh

Penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Trisna Wily Lukman Hakim Saifuddin meminta jajarannya untuk terus bergerak mengkampanyekan program Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK). Menurut Willy, keberlanjutan program SPAK perlu menjadi kesadaran bagi seluruh anggota DWP Kemenag. Tidak tergantung siapa pimpinan DWP yang menjabat.

Hal ini disampaikan Trisna Willy saat bersilaturahmi dengan jajaran DWP Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jambi. “Ada saya atau tanpa ada saya, ada ibu kanwil lama, berganti dengan kanwil baru. Ada kakanmenag lama berganti dengan kakanmenag baru, program SPAK ini harus tetap berlanjut. SPAK Kemenag harus tetap berjalan,” pesan Trisna Willy, Kamis (25/10).

Program SPAK menurut Trisna Willy harus tetap dilanjutkan karena ini merupakan salah satu andalan DWP Kementerian Agama. Bahkan menurut Willy, gerakan SPAK yang dilakukan di Kemenag saat ini juga menjadi contoh bagi kementerian/lembaga lainnya.

Willy pun bercerita, bahwa ia memperoleh kabar bahwa setelah melihat SPAK Kemenag berjalan dengan masif, kementerian lain akan menyusul. Bahkan ada yang akan meniru cara agen SPAK Kemenag melakukan sosialisasi.

“Ini kebanggaan kalau keberhasilan kita dapat ditiru oleh pihak lain. Apalagi program SPAK adalah program yang sangat baik, karena mengajak orang-orang untuk mengenal nilai-nilai kejujuran,” tutur Willy yang mulai mengenal gerakan SPAK sejak tahun 2016 lalu.

Menurut Willy, saat ini Kementerian Agama telah memiliki 166 agen SPAK yang telah mengikuti training of trainer dari Komisi Pemberantas Korupsi (KPK). Agen SPAK ini kemudian melakukan training di wilayah masing-masing. Kini, telah muncul ratusan agen SPAK Kemenag yang tersebar di seluruh Indonesia.

Mereka melakukan sosialisasi SPAK mulai dari satuan kerja Kemenag yang terkecil, seperti madrasah, KUA, Kankemenag, Kanwil, hingga unit Eselon I Kemenag. “Bahkan di beberapa daerah terdapat agen SPAK Kemenag yang turun langsung ke masyarakat seperti ke kelompok majelis taklim, grup senam, dan sebagainya,” imbuh Willy

Willy pun memberikan apresiasi kepada seluruh jajaran DWP se-Indonesia yang telah melaksanakan program SPAK. “Meskipun beberapa daerah juga masih ada yang tertatih, saya bersyukur program SPAK ini masih dapat berjalan,” ujar Willy.

Usai memberikan sambutan, Willy pun menorehkan pesan anti korupsi di atas kanvas, sebagai berikut :

“Ibu adalah madrasah yang pertama dan utama bagi putra-putrinya. Ibu adalah pendamping yang setia buat bapak/suaminya. Bila ibu-ibu bisa membangun keluarga antikorupsi, maka Indonesia bebas dari korupsi akan lebih mudah dicapai” – Trisna Willy, 25 Oktober 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *