Soal VFS Tasheel, Imam Bashori : Ini Terkesan Mempersulit Jamaah

oleh
Direktur Utama Multazam Utama Tour , H. Imam Bashori

Jakarta — Pemerintah Arab Saudi menerapkan aturan biometrik untuk visa umrah lewat Visa Facilitating Services (VFS) Tasheel. Di aturan VFS ini, maka setiap orang yang mengajukan visa harus menyertakan rekaman biometrik (perekaman sidik jari dan retina) melalui layanan VFS Tasheel.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) H. Imam Bashori menyayangkan adanya kebijakan ini sebab akan mempersulit jamaah.

“Kalau itu menjadi ketentuan yang tidak bisa ditawar, ya pasti ikut saja. Kalau masih bisa ditawar tentu minta yang lebih mudah. Sesungguhnya bagi penyelenggara gak masalah, tapi bagi jamaah kan ini seakan dipersulit. Coba bayangkan, orang dari Papua harus datang ke Jakarta atau Makassar hanya untuk Sidik Jari, waktu dia habiskan, biaya membengkak karena transportasi untuk Sidik Jari saja. Belum lagi mereka meninggalkan tugasnya dalam pekerjaan. Ini terkesan di persulit,” jelas H. Imam kepada Majalah Rindu Kabah melalui pesan singkat, Selasa (2/10/2018).

Sementara itu, Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh) dengan tegas menolak keberadaan VFS Tasheel. Sebabnya, VFS Tasheel dinilai belum memiliki legalitas untuk menjadi operator perekaman biometrik dalam pengajuan visa ke Arab Saudi di Indonesia.

Begitu juga dengan Asosiasi Penyelenggara Umrah, Haji dan Inbound Indonesia (Asphurindo) dan Kesatuan Tour Travel Haji Umrah Republik Indonesia (KESTHURI) juga menolak VSF Tasheel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *