Cikal Bakal SAPUHI Jadi Asosiasi Umrah Haji yang Profesional

oleh
Rapat Pleno dan Buka Puasa Bersama Asphurindo

Jakarta — Asosiasi Penyelenggara Haji Umrah dan Inbound Indonesia (Asphurindo) hasil Munas II di bawah pimpinan H. Syam Resfiadi menggelar rapat pleno dan dilanjutkan dengan buka puasa bersama, Senin (28/05/2018). Acara yang berlangsung di Restaurant Aljazera ini diikuti oleh semua anggota Asphurindo dan berjalan lancar serta meriah.

Di awal siding rapat pleno, H. Syam Resfiadi memaparkan soal kondisi terkini seputar Asphurindo. Mulai dari jumlah anggota, program-program Asphurindo hingga visa umrah dan haji.

“Alhamdulillah Asphurindo sudah 200 anggota, dan ada 43 anggota masih BPW dan belum mendapat izin PPIU karena dari Kementerian Agama sudah keburu moratorium. Untuk visa umrah, proses pemvisaan berakhir tanggal 8 Juni dan akan dibuka kembali tanggal 25 Juni,” kata H. Syam Resfiadi.

Menurut beliau, jumlah visa umrah Asphurindo hingga tanggal 25 Mei 2018 ini mencapai 173.653 visa. Sedangkan untuk visa haji, proses barcode akan dilakukan setelah Idul Fitri. Calon jemaah haji khusus Asphurindo tahun 2018 ini mencapai 1.073 jemaah.

“Kemenag mengembangkan aplikasi Sistem Informasi Pengawasan Terpadu Umrah dan Haji Khusus (Sipatuh). Keberadaan Sipatuh guna meningkatkan pengawasan terhadap PPIU dan Haji Khusus. Meski Sipatuh belum dilaunching oleh Kemenag, Asphurindo telah melakukan training system Sipatuh untuk anggotanya sudah tiga kali, Asphurindo merupakan asosiasi yang paling awal mensosialisasikan regulasi Kemenag PMA No 8 Tahun 2018,” jelas beliau.

Cikal Bakal SAPUHI Jadi Asosiasi Umrah Haji yang Profesional

Meski sudah dimediasi oleh Kementerian Agama, islah atas kisruh dualisme kepengurusan Asphurindo tidak mencapai titik temu. Munaslub sebagai forum islah di antara kedua kubu Asphurindo kemungkinan besar tak bakal digelar. Karena dari sudut pandang hukum dan lainnya, akan kesulitan mencari panitia penyelenggara Munaslub yang betul-betul fair.

Menurut Syam, pengurus Asphurindo di bawah kepemimpinannya telah sepakat bahwa jalur Munaslub berat untuk dilakukan. Oleh karena itu, muncul opsi untuk pembuatan organisasi baru yaitu yang diberi nama SAPUHI (Sarikat Penyelenggara Umrah dan Haji Indonesia).

“Organisasi baru itu idenya keluar karena adanya proses visa anggota Asphurindo yang memang jadi sulit karena nama Asphurindo ditolak oleh Kedutaan Arab Saudi dimana kami disuruh bersatu dulu, menyelesaikan dulu,” jelas Syam.

Syam menegaskan, pihaknya telah mencari cara penyelesaian dan jalan keluar segala macam tetapi tidak bisa. Karena prinsip-prinsip yang Ia pegang beserta pengurus adalah sebuah organisasi yang bersih dari ideologi pemahaman kemunafikan, kedholiman dan kebatilan. Untuk menjadi asosiasi yang kredibel dan professional, organisasi harus dibangun bersama-sama dan bersih dari pemahaman yang salah.

Syam mengakui bila asosiasi SAPUHI yang notabene baru ini pasti tak mudah diterima oleh vendor-vendor yang ada. Tetapi Ia yakin melihat potensi-potensi yang dimiliki pengurus dan anggota yang solid, vendor dan partner akan menjadi mudah. Lebih-lebih, travel PPIU dan Haji Khusus anggota SAPUHI adalah travel yang memiliki kredibilitas dan terpercaya memiliki track record yang baik.

Dalam waktu dekat, SAPUHI akan membentuk pengurus formatur dan menghadap Dirjen PHU Kementerian Agama. Selanjutnya Kemenag akan diundang saat pengesahan atau deklarasi asosiasi baru ini. SAPUHI akan menjadi asosiasi umrah dan haji khusus yang beda dengan asosiasi lainnya. SAPUHI akan menjadi asosiasi yang professional dan konsen untuk mengedukasi para anggotanya demi kesejahteraan bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *