Majalah Haji Umrah Gelar Diskusi Publik Bertajuk Haji dan Umrah yang Baik dan Benar Sesuai Syariat

oleh

Jakarta — Baru-baru ini, penyelenggaraan haji dan umrah mendadak heboh. Pasalnya, ternyata kehebohan bukan saja kasus gagalnya puluhan ribu calon jamaah yang gagal berangkat, tapi karena ulah unik bahkan dibilang nyleneh yang dilakukan pembimbing dan jamaah umrah saat beribadah di Tanah Suci.

Kehebohan itu berawal viralnya video aksi nyleneh pembimbing umrah di media sosial. Lantaran dalam video yang diunggah di laman Facebook-nya, sang pembimbing terlihat menuntun jamaahnya untuk mengucapkan teks Pancasila di sela-sela doa saat Sai. Walaupun video itu telah dihapus dan sang pembimbing telah meminta maaf, namun sayang sudah terlanjur menyebar. Sontak, aksi aneh itu mengundang banyak tanya dan-pro kontra. Tak terkecuali pihak Kementerian Agama selaku regulator pun bersuara.

Kegaduhan serupa kembali mencuat, lantaran aksi jamaah umrah yang melantunkan syair Ya Lalwathan belum lama ini. Pro-kontra di kalangan masyarakat muslim pun tak terhindar, bahkan tak sedikit pula yang menilainya sesat. Bahkan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, di Jakarta memprotes keras atas apa yang dilakukan oleh jamaah umrah asal Indonesia. Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi di Riyadh pun mendapat ‘peringatan’ dari pihak Kerajaan Arab Saudi dengan dihujani walau baru sebatas lewat telepon.

Dan sejak video itu viral sejumlah intansi dan lembaga sibuk mengurus problematika umrah mulai dari Kementrian Agama (Kemenag) pusat sampai tingkat provisi dan kabupaten/kota, Majelis Ulama Indonesia (MUI), hingga Asosiasi Penyelenggara Haji Umrah, tak terkecuali media.

Menjawab pertanyaan tersebut di atas, dalam rangka sosialisasi dan mengajak kepada seluruh elemen bangsa untuk menyelamatkan penyelenggaran haji dan umrah, Majalah Haji&Umrah dan hajiumrahnews.com menggelar acara Diskusi Publik bertajuk Haji dan Umrah yang Baik dan Benar Sesuai Syariat.

Hadir dalam dikusi tersebut sebagai narasumber yaitu Direktur Pembinaan Umrah dan Haji Khusus, Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama, Arfi Hatim, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Haji, Umrah dan inbound Indonesia (Asphurindo), Syam Resfiadi dan Presiden Indonesia Saudi Arabia Business Council (ISABC) Muhammad Hasan Gaido, serta pembimbing ibadah umrah, Ustadz Tommy Eka Purnama.

Direktur Pembinaan Umrah dan Haji Khusus, Arfi Hatim menjelaskan bahwa sebenarnya pemerintah sudah mengeluarkan panduan bacaan doa-doa haji dan umrah yang dibagikan kepada seluruh KBIH dan biro travel sebagai acuan. Ke depan Kemenag juga akan terus meningkatkan sertifikasi bagi pembimbing ibadah dan juga akreditasi bagi biro travel baik PIHK maupun PPIU.

Sementara itu, Syam Resfiadi menanggapi bahwa kejadian tersebut memang secara etika dalam beribadah tidaklah terpuji. Memang, dalam hampir semua biro travel membuat buku panduan doa-doa dan tata cara haji dan umrah sebagaimana yang dibuat oleh Kemenag. Tentunya, panduan yang dibuat oleh Kemenag sudah melalui kajian dan landasan yang diyakini benar sesuai syariat Islam.

“Kalau melihat kejadian dalam video itu, tak nampak jamaah ini dari travel apa? Biasanya bisa dilihat dari id card atau atribut lainnya. Bisa jadi kejadian ini hanya segelintir dari kejadian-kejadian yang ada. Dan mudah-mudahan lewat kejadian ini kita bisa ambil hikmahnya,” kata Syam.

Praktisi Pembimbing Ibadah Umrah, Ustadz Tommy Eka Purnama menjelaskan, kadang memang hal-hal seperti ini tidak saja datang dari diri pembimbingnya, tapi karena kemauan jamaah. Sebab, misalnya ada saja ulah jamaah yang mengusulkan agar rombongannya tampil beda, mereka minta baca doanya dengan suara keras, ada juga yang mencoba melantunkan doa-doa saat thawaf maupun sai dalam nada lain. Meskipun memang, semua itu bergantung pada pembimbing ibadahnya, apakah dia kuat atau mengikuti arus keinginan tersebut.

Narasumber terakhir, Muhammad Hasan Gaido sebagai Presiden Indonesia Saudi Arabia Business Council menjelaskan, sejatinya hubungan Indonesia Saudi akhir-akhir ini tengah manis-manisnya. Buktinya, tahun lalu Raja Salman datang ke Indonesia dan bahkan bersama keluarganya berlibur di Bali. Indonesia pun kuota jamaahnya dikembalikan norman dan mendapat tambahan.

“Alhamdulillah pemerintah Indonesia tanggap dengan kejadian ini, meskipun sebagian kalangan menilainya ini masalah remeh temeh yang dibesar-besarkan padahal ini sangat memalukan. Memang, bisa jadi ini hanya sebagian kecil yang terpublis ke media sosial dan akhirnya viral. Mudah-mudahan Kemenag lebih awas lagi dalam pengawasan biro-biro travel maupun pembimbing ibadah sehingga upaya sertifikasi terhadap pembimbing juga terus ditingkatkan,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *