Rajin Salawat, Penjual Sayur Bisa Umroh dan Sekolahkan Anak ke London

oleh

Ngadiyo dan Lasiyem pada Kamis (1/2/2018) bak artis di Bandara Soekarno Hatta. Bagaimana tidak, Ngadiyo dan Lasiyem yang merupakan suami isteri ini jadi tamu terhormat dan menjadi pusat perhatian. Orang tua dari Janu Muhammad ini duduk satu meja dengan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud Harris Iskandar dan owner Alisan Travel Umrah dan Haji, Ali Mohamad Amin.

Suasana pasangan suami istri pedagang sayur ini terlihat bahagia, penuh haru sekaligus bangga. Keduanya selama ini hanya bisa membayangkan untuk bisa menginjakkan kaki di tanah suci.

Namun impian itu segera terwujud. Ngadiyo dan Lasiyem sudah berada di Terminal 3 Internasional Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Kartu identitas jamaah dari Alisan Travel sudah tergantung di leher keduanya. Baju batik khusus sebagai seragam rombongan umrah dari biro perjalanan itu juga sudah mereka kenakan. Tak lupa senyum penuh bahagia tak pernah henti terpancar dari kedua wajahnya yang sudah sedikit renta. Sementara di sampingnya tampak selalu penuh bangga mendampingi salah satu anak mereka, Janu Muhammad.

Atas prestasi yang diraih Janu dan keluarganya, pimpinan Alisan Travel, Ali Mohamad Amin juga ikut bangga. Ia terketuk hatinya untuk memberikan apresiasi terhadap kedua orang tua Janu.

Ali mengatakan, keberhasilan Ngadiyo dan Lasiyem mendidik Janu hingga mampu meraih gelar Magister dari universitas terkemuka luar negeri membuat dia terharu. Alisan Travel Umrah Haji memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Ngadiyo dan Lasiem. Yaitu dengan memberikan tiket umrah gratis kepada keduanya untuk menjadi tamu Allah SWT. Berangkat ke Tanah Suci, mengunjungi tanah kelahiran para nabi, untuk menunaikan ibadah umrah.

“Saya hanya penjual sayur di Pasar Sleman, hasilnya enggak seberapa. Suami saya dulu kuli bangunan, sekarang bantu saya jualan,” kata Lasiyem dengan lugu dan mata berkaca kaca saat berbincang dengan Majalah Rindu Kabah di Bandara Soekarno Hatta.

Baik Ngadiyo dan Lasiyem adalah orang tua hebat, inspiratif dan patut dicontoh. Dengan keterbatasan finansial, dan hanya seorang penjual sayur, keduanya mampu mendidik dan menghantarkan anaknya, Janu Muhammad meraih gelar Master Geography di Inggris.

“Amalan saya baca shalawat sehari minimal 100 kali dan bangun malam shalat tahajud,” kata Lasiyem dengan logat Bahasa Jawa yang kental.

Dengan mata berkaca kaca, Lasiyem melanjutkan ceritanya. Tiap hari ia berjualan di pasar. Lasiyem dan suaminya hanya mengenyam pendidikan dasar. Lasiyem dapat lulus SD, sementara suaminya tidak. Komunikasi dalam Bahasa Indonesia pun keduanya tidak lancar. Dengan latar belakang itu, pastinya tidak banyak profesi dapat mereka pilih.

Memegang prinsip pantang meminta-minta, Ngadiyo bekerja keras sebagai buruh bangunan. Lasiyem mengimbanginya dengan berjualan sayur di pasar. Tentu bisa dikira-kira berapa penghasilan mereka. Apalagi suatu ketika Ngadiyo mengalami kecelakaan dan tidak lagi dapat bekerja berat. Jadilah dia hanya membantu istrinya berjualan di pasar.

“Saya seperti mimpi ini, enggak nyangka bakal umrah ke Tanah Suci, gratis pula. Kalau saya amalannya shalawat dan salat jamaah,” kata Ngadiyo menambahkan.

Menurutnya, di dalam mendidik anaknya terbilang amat keras. Anaknya diminta untuk belajar mandiri dan bekerja keras. Oleh sebab itu, Janu terbiasa disiplin dalam belajar. Ia juga tak gengsi membantu orangtuanya berjualan di pasar. Janu meraih IPK tertinggi di jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Janu kini telah menyelesaikan program S2 Human Geography di University of Birmingham, Inggris.

Lebih membanggakan orang tuanya, Janu terpilih sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia di Birmingham 2016-2017. Ia juga menjadi Student Representatives College of Life and Enviromental Science. Posisi ini menjadikannya sebagai satu-satunya wakil mahasiswa se Asia Pasifik di kampusnya.

Bukan itu saja, Janu juga pernah terpilih sebagai salah satu Calon Pemimpin Muda Potensial Indonesia versi Mckinsey ini juga rajin tampil di beragam konferensi geografi internasional. Mulai dari Paris, India, Cardiff, Cambridge, dan beberapa kota di Inggris. Di beberapa konferensi ia tampil sebagai pembicara.

Nama Janu juga tercatat sebagai anggota peneliti muda di Internasional Geographical Union, United Kingdom Royal Geographical dan Regional Studies Association. Ketiganya merupakan organisasi internasional yang fokus pada kajian riset di bidang geografi dan studi kawasan.

Orang tua Janu sudah lama ingin sekali ke tanah suci. Ibunya ingin sekali pergi haji. Lasiyem ingin sekali bersama  suaminya dan ingin mencium hajar aswad.

“Dari sini kami ingin mengetuk hati orang-orang, masyarakat luas, bahwasanya tak semua yang mampu bisa menyekolahkan anak ke luar negeri. Sosok seperti Pak Ngadiyo dan Ibu Lasiyem itu bisa meskipun dengan keterbatasan,” kata Ali menekankan.

Menurut Ali, tak ada motif dan harapan apapun Alisan Travel memberangkatkan orang tua hebat ini. Kecuali hanya memohon keberkahan kepada Allah SWT. Ia menambahkan, dalam menjalani hidup di dunia ini tidak bisa hanya dinilai dengan finansial saja. Alisan Travel ingin dipenuhi keberkahan dalam berusaha dengan segenap aktifitas yang lainnya dan memberikan manfaat untuk banyak orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *