Kisah Haru Janu, Pedagang Sayur Beasiswa di London Dan Umroh Orang Tua

oleh

Jakarta-  Sebanyak 221 jemaah umrah Milad Alisan ke-18 diberangkatkan ke Tanah Suci, Kamis 1 Februari 2018. Mereka yang berangkat di bawah bendera PT Alamin Ahsan Travel  ini adalah orang-orang istimewa.

Dari ratusan peserta jemaah umrah Milad Alisan ke-18 ini, ada cerita yang sangat mengharukan. Yaitu dari Ngadiyo dan Lasiyem, suami istri yang berangkat umrah gratis. Ngadiyo dulunya seorang tukang buruh bangunan dan Lasiyem istrinya adalah seorang penjual sayur di Pasar Sleman. Tentu penghasilan mereka dapat dibayangkan berapanya, tetapi orang tua hebat ini memiliki anak yang memiliki segudang prestasi. Janu Muhammad namanya.

Janu terbiasa disiplin dalam belajar. Ia juga tak gengsi membantu orangtuanya berjualan di pasar. Meski demikian, Janu meraih IPK tertinggi di jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Janu kini telah menyelesaikan program S2 Human Geography di University of Birmingham, Inggris.

Lebih membanggakan orang tuanya, Janu terpilih sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia di Birmingham 2016-2017. Ia juga menjadi Student Representatives College of Life and Enviromental Science. Posisi ini menjadikannya sebagai satu-satunya wakil mahasiswa se Asia Pasifik di kampusnya.

Bukan itu saja, Janu juga pernah terpilih sebagai salah satu Calon Pemimpin Muda Potensial Indonesia versi Mckinsey ini juga rajin tampil di beragam konferensi geografi internasional. Mulai dari Paris, India, Cardiff, Cambridge, dan beberapa kota di Inggris. Di beberapa konferensi ia tampil sebagai pembicara.

Nama Janu juga tercatat sebagai anggota peneliti muda di Internasional Geographical Union, United Kingdom Royal Geographical dan Regional Studies Association. Ketiganya merupakan organisasi internasional yang fokus pada kajian riset di bidang geografi dan studi kawasan.

Bahagia, penuh haru sekaligus bangga. Tiga kata inilah yang pas untuk menggambarkan suasana hati pasangan suami istri pedagang sayur ini. Keduanya selama ini hanya bisa membayangkan untuk bisa menginjakkan kaki di tanah suci.

Namun kemarin, Kamis (1/2), impian itu segera terwujud. Ngadiyo dan Lasiyem sudah berada di Terminal 3 Internasional Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Kartu identitas jamaah dari Alisan Travel sudah tergantung di leher keduanya. Baju batik khusus sebagai seragam rombongan umrah dari biro perjalanan itu juga sudah mereka kenakan. Tak lupa senyum penuh bahagia tak pernah henti terpancar dari kedua wajahnya yang sudah sedikit renta. Sementara di sampingnya tampak selalu penuh bangga mendampingi salah satu anak mereka, Janu Muhammad.

 

Pengusaha Umrah yang Hatinya Terketuk

Atas prestasi yang diraih Janu dan keluarganya, pimpinan Alisan Travel, Ali Mohamad Amin juga ikut bangga. Ia terketuk hatinya untuk memberikan apresiasi terhadap kedua orang tua Janu.

Ali mengatakan, keberhasilan Ngadiyo dan Lasiyem mendidik Janu hingga mampu meraih gelar Magister dari universitas terkemuka luar negeri membuat dia terharu.

“Ini sangat sulit saya bayangkan, dengan keterbatasan ekonomi, menyekolahkan anak sampai S2 di luar negeri itu sangat sulit,” jelas dia.

Pihaknya ingin memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Ngadiyo dan Lasiem. Yaitu dengan memberikan tiket umrah gratis kepada keduanya untuk menjadi tamu Allah SWT. Berangkat ke Tanah Suci, untuk menunaikan haji atau umrah adalah impian orang tua Janu.

“Waktu itu ada acara di Kemendikbud. Jadi kami hadir diundang, kami melihat ada profil sosok Ibu Lasiyem dan Pak Ngadiyo. Kami tersentuh begitu melihat mereka punya keterbatasan. Penghasilan yang sangat minim, hanya penjual sayur bisa menyekolahkan anaknya ke London,” kata Ali di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, sebelum jemaah umrah Milad Alisan ke-18 berangkat ke Tanah Suci.

Sebelum berangkat, Ngadiyo dan Lasiyem beserta Janu putra kebanggaannya ini, duduk satu meja dengan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud Harris Iskandar dan owner Alisan Travel Umrah dan Haji, Ali Mohamad Amin. Mereka bercerita santai soal pendidikan dan segudang prestasi yang ditorehkan Janu. Meskipun orang tuanya memiliki biaya yang sangat terbatas dan hanya sebagai penjual sayur. Toh, cita-cita dapat dikejar dalam genggaman dengan usaha dan kerja keras.

“Dari sini kami ingin mengetuk hati orang-orang, masyarakat luas, bahwasanya tak semua yang mampu bisa menyekolahkan anak ke luar negeri. Sosok seperti Pak Ngadiyo dan Ibu Lasiyem itu bisa meskipun dengan keterbatasan,” kata Ali menekankan.

Ali yang juga Wakil Ketua Umum Himpuh Bidang Luar Negeri ini menegaskan, tak ada motif dan harapan apapun Alisan Travel memberangkatkan orang tua hebat ini. Kecuali hanya memohon keberkahan kepada Allah SWT.

“Hanya melihat beliau ini menyekolahkan anaknya begitu hebatnya. Kami tersentuh dan memberikan apresiasi. Tidak lebih dari itu dan kami ingin keberkahan dalam hidup,” jelas Ali.

Menurutnya, dalam menjalani hidup di dunia ini tidak bisa hanya dinilai dengan finansial saja. Alisan Travel ingin dipenuhi keberkahan dalam berusaha dengan segenap aktifitas yang lain dan memberikan manfaat untuk orang banyak.

Ali menambahkan, semua jemaah umrah Milad Alisan ke-18 yang berangkat ini semuanya VIP. Tak terkecuali pelayanan fasilitas yang diberikan dan diterima oleh orang tua Janu, Ngadiyo dan Lasiyem. Harga untuk umroh VIP ini dipatok di kisaran harga Rp 35 juta dengan fasilitas hotel bintang 5. Baik itu di Madinah, Makkah dan Jeddah.

“Mohon didoakan agar lebih banyak lagi keluarga hebat melahirkan Janu Janu yang hebat, agar lebik banyak lagi pengusaha-pengusaha kayak Pak Ali,” kata Harris dari Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *